Thursday, January 31, 2008

the six chronicles: kronik piri reis (#1)

ribut bunyi tuts kibor meneruskan kode ascii menjadi tulisan enter di monitor, merespon tulisan exit dari elder. menekan alt-S, pmag menge-send-nya, lalu menghela napas, melepas earphone dari kedua kuping, seraya mematikan mp3-nya.

“case closed”, pikirnya, dan yang terbayang sekarang adalah plain yoghurt, diselingi teh tawar panas sekali, duduk sila di taman samping sayap L gedung brengsek ini, “hmmm, good light lunch, not bad“, pikirnya lagi.

pantatnya baru akan meninggalkan kursi ketika telpon kubikelnya berdering, diangkatnya gagang dan belum keluar halo dari mulutnya, “pmag, aku udah kirim list nya, you’d better read it right now, plis cek ya, wis yo!? ” suara serak peewee mengalir deras dan koneksi langsung putus. “sialan peewee! “ gumamnya, pantatnya terpaksa jenak lagi di kursi, membuka mailbox, meng-open kiriman peewee, dan mulai membaca.

“shit, shit . .!”, pmag bergumam sambil membaca ulang chat list kiriman peewee. kedua tangannya memangku muka lucunya, kedua bibir merahnya saling menekan atas bawah, kadang seakan memonyongkan mulut kadang seperti ketawa sinis.

“kenapa exit enter” pikirnya, “tanpa menunggu enter dari pee, berarti abe benar terburu buru . . ?!” otaknya bergolak, sejalan dengan adrenalinnya terasa mulai menaik juga, termasuk tiba tiba kebelet pipis.

“kalau abe ketahuan, ok, berarti tidak ada lagi info lanjutan, terakhir berarti 1001-onsky, shit . . . “ teriaknya keras, “harus cepet kontak, analisa cepat, kabari elder... sekarang!"

“shit, shit . .!”, teriak pmag, meninggalkan kubikelnya, berlari kecil, menuju ke han yang lagi duduk baca koran di meja kopi, dan berbisik kepadanya: “han…., emex needed aku ot abe 1001 onsky!”, lalu meneruskan langkahnya ke war room.

han menoleh terperanjat, langsung menyusul pmag, sambil menyentuh bahu perempuan yang lagi menyeruput teh disebelahnya: “jina ikut…!”, kata han dengan sedikit nada memerintah.

jina, trainee paling bermasalah tapi juga paling aneh kemampuannya di headquarter, kecil manis berkacamata, anting panjang bentuk dolpin di kuping kiri dan tato gambar mata di dahi, di atas antara kedua mata aslinya; cuma menganga diam memandang han yang kelihatan tegang.

“sekarang dogol..!” lanjut han.

jina langsung ikut beranjak, tetap membawa cangkir tehnya, sambil bergumam pelan dengan muka tanpa ekspresi: ”sekarang dogol! huh!”, lalu berjingkat cepat menyusul han ke war room.

headquarter/war room - pmag duduk di pojok meja lonjong besar di tengah ruangan, layar plasma besar memampangkan chat list abe dengan pee wee, di plasma yang lebih kecil di sebelah kiri chat list pmag/elder juga terpampang.

han dan jina masuk war room hampir besamaan, pandangan han langsung terfokus ke kedua layar, sambil menuju kursi terdekat, duduk dengan mata tetap nyalang ke layar; sedangkan pmag tak henti melihat segala tingkah laku han, seakan menunggu apa reaksi han melihat kedua chat list itu.

jina masih berdiri di pintu masuk, melihat layar lalu menoleh bergantian ke arah han dan pmag, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi; rentetan tulisan di layar memberi jina sedikit kesimpulan ada emergency sedang terjadi, tapi lainnya…? dia blank.

“kenapa kamu te-o mag?” gumam han, memecah keheningan di kamar itu. “dan kenapa harus dengan aku..?”.

“gak ada orang lagi han, dan siapa yang dipercaya abe untuk saat sekarang ini selain kamu…? dan by the way, kenapa ada jina han..? pmag menjawab tenang sambil juga bertanya balik, tanpa melihat ke han, menunduk sibuk mengoperasikan kohjinsha di depannya.

“karena gak ada orang lain juga mag..”, han menjawab pertanyaan balik dari pmag sambil tersenyum kecil.

pmag mengangkat kepalanya, melihat kearah han, ikut tersenyum kecil, lalu berkata: ”well, you know the risk pal..”, lalu kembali sibuk dengan kohjinsha-nya.

“te-o apa..?” tiba tiba jina menyela, “seribu satu onsky..?... emex..?”, lanjutnya seakan tidak butuh jawaban, lebih ingin menunjukkan dia bingung dan butuh penjelasan.

“duduk jin..”, sela han, “ satu persatu ok?”; dan jina duduk, bertopang dagu, menunggu han meneruskan.

x more tx, artinya gak bisa lagi transmit, ini yang terakhir” ujar han.

wt happ ab? see x evil wy x more?.. peewee tanya kenapa tidak bisa transmit lagi, toh evil sudah gak ada lagi” lanjut han.

“tapi kayaknya abe ketahuan, evil lagi mengejar dia mati matian sekarang…” lanjut han meneruskan, ketika tiba tiba pmag memotong pembicaraan dan menyerocos…

“ok, ok..one hundred one onsky, bukan seribu satu, artinya kesempatan lolos 1 banding seratus, lainnya ten one, one thousand one….. dan one million one” cerocos pmag.

“onsky artinya tidak bisa ber inisiatif apapun, kayak layangan di udara geraknya tergantung goyangan benang, yang ini tergantung gerakan lawan..”

“RC… rescue call, k..ketangkap ok? x trc x fp..no trace no foot-print, self/d..self-destroyed….ok..?, lanjut pmag.

jina menyela dengan suara pelan seakan takut diterkam pmag: ”all r/t..maksudnya all right khan..?”, dan tidak ada yang menjawab, kecuali han megerdipkan sebelah matanya ke jina.

“emex! emergency expose, elder sedang robot mode, cuma meninggalkan pesan xrdy 5.00fx, not ready for 5 fixed hours..ok..?”

“te o, artinya aku take over masalah ini…, sekarang coba artikan sendiri semuanya ok..?”, pmag mengakhiri cerocosannya, sambil melihat kearah pintu, mengernyit, seakan menunggu orang lain yang tak kunjung datang.

jina terhenyak…pikirannya melayang membayangkan abe, si kurus abe, lucu, baik hati, sok filsuf, cara ngomong yang aneh, lalu tiba tiba dia teriak: “aku bisa menghubungi abe, pasti bisa..!”; sambil matanya membelalak senang.

pmag melihat seakan heran ke arah jina, lalu berkata: “ya karena itu kamu bisa duduk disini… dungdung…!”, dan han tersenyum mendengar kata dungdung dari pmag.

“dungdung itu apa han..?, dengan kalem, jina bertanya sambil menoleh kearah han yang masih tetap tersenyum memandang pmag.

tiba tiba terdengar suara langkah orang datang, bain dan ken, tergopoh merespon on line call pmag; han beranjak dari kursi, menuju pintu, menunggu kedua orang itu masuk, sambil berkata pelan ke jina: ”dungdung itu dogol jin….”, lalu menutup pintu, menekan tombol merah dekat jendela, semua korden menutup, semua lampu menyala.

dari luar, war room tertutup rapat, kedap suara sunyi senyap seakan tak ada nyawa, meskipun mestinya ada pembicaraan panas di dalam sana.

waktu menunjukkan 16.30 sore, dan ketika semua orang siap siap pulang, di war room sedang siap siap perang....

……to be continued......

(di 501/28agustus2001/12.29am - edited 30januari08/19.16pm)

Wednesday, January 30, 2008

di dharamsala dalai berdoa

 
mon
pay ne
kun geg
me dup
gyu
chig

semoga terkabul doa
tanpa hambatan
apa apa

itu yang disenandungkan dalai
ketika panchen terakhir tak kunjung tiba
dan tashi lhunpo tetap jadi kuil duka

.... dan kamu datang tiba tiba
memelukku seakan tak akan lagi jumpa
dan ketika kutanya kenapa
jawabmu membuatku ternganga
rinduku hampir tak layak tuai
katamu
terlalu lama kutolak dan aku lalai
bisikmu
aku takut jadi badai
desahmu
aku mau angin yang membelai
pintamu
dan aku memelukmu
tak kuasa berkata apa apa
teringat kaku bibirku di tamil nadu
keberanianku bagai moksa
takutku mengemuka
aku lari dan lari dan lari
dan kamu
tetap
saja
ada
di muka.....

go
pay zhe
don lun
gi dup
gyu
chig

jadikan semua makhluk
bahagia dalam
kesementaraan
maupun keabadiannya

itu juga digumamkan dalai
ketika panchen tak kunjung pulang
setelah diculik oleh 'orang orang'
dan kabarpun merebak sedihpun meledak
dari shigatse sampai karnataka

dan tiba tiba ngeriku membengkak
selalu membayangkanmu
entah
kapan
bakal
ketemu

(mengenang pertama kali pip muncul, di tashi lhunpo monastery, saat memperingati kelahiran gendun choekyi nyima, panchen lama ke 11 pilihan dalai lama ke 14, yang ketika berumur 6 tahun hilang dibawa ke negeri tetangga: the youngest political prisoner in the world!)

gendun choekyi nyima
panchen lama ke 11



Tuesday, January 29, 2008

han/dangling

han
jangan matikan unggun
aku masih akan keluar
menikmati malam
dan dingin menjelang pagi
memanaskan cangkir dingin
menghangatkan kopi bau kayu bakar
lalu
melihat bara dan jilatan api
melihat asa dan jilatan
sepi


han
kalau mau masuk
masuk sajalah
tenda ini bahkan terlalu besar untuk kita
kurang satu orang
yang selalu cerewet
dengan
lepas sepatu depan tenda
letak ransel harus belakang kepala
doa sebelum tidur untuk mereka diluar sana
dan tentu saja
rasa was was kita
ketika ada panggilan tiba tiba
gerak cepat dan perjalanan entah kemana
atur laku dan rencana
dan
rasa was was kita
entah bisa entah tidak
selalu saja
entah kenapa?
kita jalani
begitu saja


han
aku mau tidur di luar saja
meski sempit aku di diantara
juluran ranting dan dahan
pepohonan hutan ini
diantara percikan bunga api
dan tumpukan kayu membara
aku mau selesai saja
aku mau ke inpalbet dan nanmnaduja
temui teman-teman lama
melupakan semua kelegaan
yang selama ini baik baik saja
yang tiba tiba digulung ombak
yang kupikir akan ada akhirnya
yang ternyata tak berhenti menyapa


kurang apa kita han?
apa yang belum kita jalankan?
siapa yang belum kita sapa?
busuk mana yang belum kita hirup baunya?
bagian tubuh mana yang belum luka?
selusur mana yang tak ada jejak kaki kita?
kurang apa
kita?


han
terserah kata arah
dan amarah yang kupelihara
ya kesitu jalanku
bukankah itu sama dengan
tahun tahun yang lalu
dan kamu selalu bilang
'aku tunggu pulangmu?'
huh..
mungkin tidak untuk sekarang ini
hitunglah panjang jalan petualang
bisa saja
langkahku
tak cukup mampu
untuk
merentang
jarak pulang
untuk
menahan
sakit
yang datang

han
kumatikan unggun
besok saja dilanjutkan
sekarang ini
aku
ingin
tidur
kedinginan

(trapnest/29jan08.03.30am)

melihatmu

dan aku melihatmu
berlari ke arahku
entah suka entah luka
tapi rancak gerak
dan rentang tangan
yang kau ragakan
membuat ragu
akan kuapakan
ajakan pelukmu
akankah jadi selamanya
atau awal
dari perkelahian kita?

dan aku melihatmu
bolak balik mencariku
dengan ransel dipunggung
entah harapan atau beban isinya
yang jelas ronamu penuh rasa
hendak merengkuh
kesendirianku?
atau hendak kau lumatkah
hidupku?
atau akan kau ajak
menapak jejak malamku?
dan
kalaupun aku mau
apa aku mampu?

(rumahsentul/16maret2006/21.51wib)

Monday, January 28, 2008

untuk pip (#2)

jam jam seperti ini yang membuatku tidak mampu pip
ketika bergulat dengan kantuk dan kesumpekan hati
jari tetap harus mengetuk jajaran qwertyuiop ini
pikirpun bak berzikir lupa pada ke-selfish-an raga
karena sesuatu harus selesai
dan tak mungkin meninggalkannya begitu saja
dan waktu mengejarmu
dan lalu kamu ingat mereka semua
sebut saja namanya satu persatu
(kamu tahu karena rumah mereka pernah jadi rumahmu juga)
lalu bayangkan laku tanpa pamrih yang ada
(kamu tahu karena kamu pernah ikut mereka bekerja)
lalu bayangkan...
apa aku bisa?

jam jam seperti ini yang membuatku tidak mampu pip
yang pernah kamu ucapkan pagi itu
mungkin bukan tak mampu pip
tapi
tak bisa

:,(

: |

...

(trapnest/28jan08/dinihari.03.26wib)

Sunday, January 27, 2008

untuk pip (#1)

ogin dan oran sampaikan salam
pada satu sahabat rantau
pada kepercayaan atas hidup
yang tak redup didera malam

pada erangan genderang jilin
pada tabuhan gendang safin
pada tatapan mata pejuang
pada gamang kaki antelop
pada rintihan hiena jantan

jangan kautoreh kulit dukamu
jangan kaubiarkan darah merebak
kerna akan
menyusup
dan merekatkan
semua
kenangan
mu/ku

yang bisa saja
tentang puisi dan lagu rindu
atau menghitung sisa recehan
atau lecehan para pendatang
dan ilusi…
jalan panjang
yang jadi
kenyataan.

(editedversion/trapnest/27jan2008)

tentang B

kalau kamu tanya tentang B
itu berarti harus bercerita tentang
seluruh jalan tikus yang pernah kami lalui
ranting patah, daun kering
dan pokok pohon yang telah kami singkirkan
jerat tupai
jebakan kijang
dan jaring monyet
yang berhasil kami punahkan

tapi belum tentu aku bisa cerita tentang
kasih sayang dan saling pengertian
rasa kangen, penantian dan ketidak pastian
dan juga
kepercayaan pada kebenaran
keberanian untuk melawan
dan rasa takut
ketika tak ada lagi
the invisible
hand

dan yakinlah
juga bukan tentang
rasa kasih itu
yang tak pernah bisa
kami ceritakan
bahkan
ke
kami
sendiri

(edited from pip's original/momento/26jan2008/20.30wib)

Friday, January 25, 2008

storyboard (#1)

-ketika kamu di depan rodin-

apakah ketika kamu turun di varenne
melenggang ke les invalides
berbelok ke hotel biron
terpana didepan le penseur
terasa oleh kamu
seakan meretas masa lalu
bahwa rive gauche dulu tak ada?
bahwa sama dengan kita
bantaran sungai cinta
hampir tak ada lagi
penghuninya?

-gare du nord ku-

cobalah turun di pigalle
sapakan aku gare du nord
tatapkan mataku pada sang facade
ke arah sembilan penjaga jiwa
lalu langkahkan aku ke gare de l’est
dan di depan hotel itu
aku ada memandangmu
paling tidak
akan kau rasa bau dukaku

-ketika kamu di d'orsay-

tahukah kamu
begitu senangnya aku
kerna tak terhitung
kusapa jarak
antara rue amelot ke rue de lille
dari cedex ke cedex
menghitung hari membuang cemas
tempat ku duduk melamun nasib
begitu senangnya aku
pernah kau rambah tempat mainku
begitu sedihnya aku
tak ada aku di dekatmu

-ketika di montmartre-

bukankah itu bukit para martir?
ketika sang uskup dikorbankan?
tempat loyola dan jesuit nya?
bukankah itu du tertre dan la bohème?
tempat jiwa bebas luluh lantak?
mencari arti tentang kebenaran
dan cinta?

jangan katakan bukan..
kerna paling tidak
bukankah itu tempat aku dan ibuku
menyandarkan rasa cinta
pada picasso pada dali
pada renoir pada moliere
pada van gogh dan matisse

kerna paling tidak
bukankah itu tempat aku
dan kamu tanpa sadar
menjalin cinta
lewat 'gambar' dan tulisan
dan suara?

kerna itu...
bukankah itu
tempat aku, ibuku
dan kamu...?


-menjelang paris (di kamar depan)-

pada malam musim panas
terasakah kamu
angin dingin jelang semi
dan dibalik jendela
daun gugur dan merah langit
menggigit dukamu
perih dan menusuk
tak terkatakan oleh rasa

lalu kamu sadar
betapa anehnya kita
bicara cinta berkepanjangan
ketika
alih alih
l'amour, l'argent,
et de la renommée,
donnez-moi
la vérité
give me the truth!

lalu aku sadar
ketika rue amelot bukan lagi rumahku
apakah jembatan merah
akan juga mengharu biruku
lewat duka, luka dan
tanyamu?

lalu kita sadar
bukankah
ada terpaan
angin dingin
dan daun gugur
dan merah langit
jelang semi?

(sb.paris.sept.2005)

Thursday, January 24, 2008

pip/han

1. pip/kakadu

pip
di kakadu
ada babi, kerbau dan bangau
liar hidup sejahtera
diantara lumpur dan lapangan rumput basah
buaya juga ada

pip
di kakadu
kutemukan majelis takzim rakyat yarraba
bersatu menoreh sejarah mereka
entah sampai kapan
mereka ada

pip
di kakadu
kukabari semua kawan
sejak dari dulu
aku tak pernah
bisa beda
seperti juga
desah angin
bau tanah kena hujan
dan
bunyi langkah
kepayahan

pip
di kakadu
kusadari
itu semua


2. han/jalan malam

han
berjalan malam tidaklah selalu menyenangkan seperti jalan lainnya
kadang tak ada yang diajak tegur sapa
ataupun sekedar melihat orang lain memapas jalan kita
lelah rasanya
lalu mengapa tetap begitu, jalan malam selalu?
kalau aku kerna tak suka
atau tak pernah ada yang memaksa ?

han
kalau kau tanya alasan lain?
aku pikir kerna mengikuti yang ingin di rasa
ketika jalinan rasa kantuk dan kesendirian
jadi pengalaman menyenangkan
ketika orang lain mengatakan siksaan

han
meski kamu tak tanya lagi
sebenarnya bisa juga kesengajaan
karena aku tak mau terang
karena aku terlindung dalam kegelapan
meskipun karenanya
ceritapun jadi lain
jadi kesedihan
bukan kesenangan
kerna
siapa yang akan memelukmu
ketika
siang?

(kamarprayan24jan08.dinihari - teringat sinlak dan ramalannya)

Wednesday, January 23, 2008

quando

kenapa lagu ini selalu mengikutiku
dari prabumulih sampai river gauche
membuatku tak habisnya penasaran
dan
kenapa kamu juga memutar lagu itu
tak sekali dua
tak iseng dan tak sekedar suka suka
tak juga peduli
kalau itu menyesakkan rasa

kenapa juga lagu itu mengikutiku
dari inpalbet sampai namnaduja
apakah karena kamu menyukainya
lalu tanpa sadar kauselipkan pada storyboard maya
yang selama ini tak pernah selesai gambar bahkan sketsanya

kenapa lagu ini tak bosan mengikutiku
dari petit opak sampai ilaga
menganggu ketenanganku
jadi terusik tidur sang luka
lalu dikoyaknya tabir pelindungku
lalu
aku
jadi
telanjang
dan
sia
sia

(momento22januari08-19.30wib)

Monday, January 21, 2008

ada yang aneh hari ini

kamu kenal kangen tidak?
teman seperjalananku
yang kadang riang
kadang moody
yang selalu
menggenggam
setiap
tangan
kesepian

sekarang ini
dia duduk didepanku
baca puisi
kerdipkan mata
dan
tertawa
kepadaku

padahal
kemarin
di luar pagar
dia masih
melempar rumahku
dengan batu
bercarut marut
sumpah serapah
entah apa maksudnya

besok
entah apa lagi
mungkin
balik ke yang lama
yang biasanya
antara aku dan dia
yang sudah bertahun
kami jalani
yang baik baik saja
selama ini

yang tanpa rasa
tanpa warna
hambar dan tawar
sekedar tahu
kalau aku
dan dia
pernah
ada

semoga

(rumahprayan21januari2008.20.18wib)

Saturday, January 19, 2008

songs of synchronicity

1. antara murakami dan the beatles

memang ada benarnya
tetapi
asal kamu tahu
m tak bermaksud menyedihkanmu
b tak juga mengorek kenangan
melankolikmu
mereka tak lebih dari narasi
tentang na tentang to dan tentang ki

dan
tentang kamu
dan kawanmu
dan lawanmu
dan
tarian zen
di antara ketiganya
dan
isn't it good
norwegian wood?


2. ketika al jarreau menyapamu....

terasakah
bahwa antara
aku dan kamu
bukanlah
kamar gelap
dan matikan lampu

bagiku
terasa
bak ruang dan waktu
yang makin lama
makin abu abu
lalu berselisih jalan di tempat tertentu
selisipan
katamu

lalu
entah kenapa
tak ada satupun dari kita
yang mampu menahannya
ketika you gaze at me
dan i see moments of history
dan your eyes meet mine
dan they dance to the melody
dan we live again
as if dreaming


3. crossroads-nya don mclean..

membawaku pada kenangan bercerita
tentang namnaduja dan inpalbet
kepadamu
ditingkahi
selipan dan senggak-an
tentang gagal
dan
salah jalan
dan senandung lagu don mclean

you know i’ve heard about people like me
but i never made the connection
they walk one road to set them free
and find they’ve gone the wrong direction

membawaku pada kenangan
saat lelah
melelehkan
harapanmu
lalu pasrah dan
persetan
dan aku diam diam
menggumamkan bait don mclean

but there’s no need for turning back
`cause all roads lead to where i stand
and i believe i’ll walk them all
no matter what i may have planned

dan juga ketika kegeramanmu datang
lalu kamu ajak aku
ayo kita lawan dan juga nyanyikan
lagu don mclean

we’ve walked both sides of every street
through all kinds of windy weather
but that was never our defeat
as long as we could walk together

semoga
lukamu sembuh
dukamu luruh
dan
tertegun
saat
kenyataan
menyapa
mu
pelan

(rumahprayan - 19 januari 2008, 21.26 wib, teringat saw dan ketakutannya)

malam terakhir aku marah pada bulan

1. ini malam terakhir

ini malam terakhirku disini, setelah hari panjang beratus siang beribu malam saat menguras pikiran dan emosi, hanya sampai disini, kemudian mulai lagi dengan kalibrasi...? menapak lagi satu persatu menerawang jauh mencoba membayangkan puncak...? atau jungle eye ku tak lebih dari melihat semak batu di depan tanjakan dan bibir tebing biar tak jatuh tak lelah tak tersampir di pokok pohon...kelelahan?

ini malam terakhirku di sini tidak bisa lagi di teruskan...tak ada lagi nadir yang lebih tinggi dari posisi sekarang, tak ada lagi pagar batas yang bisa ku pakai..., aku tidak mau tanggulku jebol bah menggulungku remuk luluh lantak aku di hilir sungai sebagian tubuhkupun tertutup pasir..!

sedih dan mencelos, dukana...dukana...dukana... jauh sekali jalan yang sudah ditempuh, banyak yang sudah dilewati...tak cukup ransel menggendong semua kenangan..dan aku berpikir, malam ini...bahkan ransel pun tak akan kubawa. akan kutinggal begitu saja, kuonggokkan di pojok dinding belakang pintu, tak berharap orang akan melihat dan mengambilnya; dan kalaupun iya...memangnya bisa diapakan....?

semuanya tak lebih dari kenangan demi kenangan dan ketika aku saja yang punya tak mau membawanya...apakah orang lain akan mampu memintalnya jadi cerita...?

dukana dukana dukana...! aku juga berang dan meradang dan menyempit saluran adrenalinku saking takutnya aku kalap kerna tak mau jadi terhina.

entahlah, akan kutetapkan hatiku, keberanian pada menyongsong (lagi) dunia baru.., alamak...!lagi lagi dan lagi...? kebiasaan baru, tulisan baru, mainan baru...orang baru, jaringan baru...basa basi baru..aduhhh malas rasanya.. enaknya meneruskan semua ini apa adanya.. tapi kok sepertinya tak ada lagi crossroad di ranah ini, semuanya crossed, bak benang kusut salah gulung dan tak terurai...! tapi bisa jadi ini hal yang justru aku butuhkan dan paling guna untuk hidupku sekarang.

sekali lagi..., ini malam terakhirku disini, sesudahnya...? tak ada yang tahu, yang jelas aku sudah menentukan sikapku..., aku akan menjalaninya, dan bisa atau tidak bukan lagi pertanyaan, kerna aku akan menjalani...bisa atau tidak bisa tidak relevan: karena kalaupun tidak bisa toh aku tetap akan menjalaninya dan itu tidak berarti tidak bisa khan....? gampangnya aku tidak punya tolok ukur keberhasilan...yang bisa seperti apa, yang tidak bisa seperti apa...., sehingga mampu tidak mampu juga tidak kena...!

aku menjalani...tak ada siap tak ada tidak berani...ini menjalani; laku hidupku hanya tinggal ini, satu satunya yang bisa dijalani...!capek...aku mau tidur saja..lupakan dulu reality...tubuhku butuh istirahat...otakku perlu santai dan main sendiri semaunya, emosiku rindu dendam dengan kesepian....!


2. dan aku marah pada bulan di kepalaku

yang tak peduli dengan rasa yang hambar ketakutan tentang masa masa lalu berkelindan dikepalaku tak habisnya mendesakku untuk memadu keinginan dengan duka luka lama dan lalu aku marah pada bulan di kepalaku

bah humbug, siapa kamu yang mencerca rasa kasihku pada duka pada lukaparah kehidupan nasib cinta lagi lagi itu kan yang mecambuk malam malam tak bisa tidurmu...?

aku mau aku mau merengkuh rasamu asalmu asal jangan dengan harapan yang bukan bukan kerna kamu pasti tahu kemustahilan tak pernah terjadi padaku bahkan ketidakmungkinanpun bisa kuajak bicara kucengkeramai dengan lara lapa yang yang gundah ...aduh sayangku peluk aku peluk lukaku basah darah ku mencair didadamu kau jilat dan kau ludahkan atas asinnya dan kujilat lagi atas asmara yang kau sertakan pada jijikmu aku tak malu

lusuhkah rasa ini hingga tak lagi peduli lara? tak mau merasa perih biar dikucuri irisan jeruk mengucuri setiap mili muka luka...aduh sayang cinta dukaku dan kau akan tahu betapa sementaranya rasa itu dan sesal akan menidurimu ber-malam malam bagai dongeng kudis kurap yang menjelma jadi lukisan perjalanan kesakitan luka cintaku

siapa sebenar aku apa iya aku mau dan bau haru tak habisnya melangkahi tubuh tidurku lalu kukatakan...marah...memendam dan tak bisa keluar...jelajahi aku sayang jangan lewatkan bahkan satu prapatan...jangan lewatkan bahkan belokan kecil yang bawa kamu ke selokan dan betapa gundahnya ketika tahu tak ada satupun yang kau tak tahu hambarnya rasa ingin ketika semua sadah dan terpikir untuk mengulangnya bahkan sekali lagi saja...!

lalu aku teringat pada ibuku, dan baru saja menyapaku dan hampir takluk aku dengan rasa benciku ketidakenakan apakah iya dia memang cinta padaku entah juga gunanya membicarakan ini..entah ada gunanyakah...?

sitisit...! rasa tak bisa dipaksa percayalah..dan kalau kau pikir kamu sedang play the game dengannya..lupakan saja...aku tak kan menyerah dan setahuku aku tak pernah kalah karena kemenangan juga bukan hal yang pernah aku rayakan karna itu....kalah...? apa itu kalah....?

percayalah..aku tak pernah memakainya dalam setiap atribut yang melekat pada diriku, aku tak pernah menyematkan kalah menang jadi emblem kulit luarku. percayalah..bahkan ketika kamu suka padaku..alas...aku bahkan tak tahu bahkan tak mau memikirkan itu..kenapa aku harus terduduk sedih sekarang ini ketika bahkan kamu tak pernah menyentuh rinduku secuilpun padahal bak daging busuk menggumpal kugendol kemana-mana bersama malu-ku.

(rumahprayan, senin dinihari 22 mei 2006, 00.15 wib, ketika telah habis tali dadaku dan tetap saja keluar gambar itu)

Monday, August 01, 2005

the death of a mountaineer

akhirnya kamu pulang juga
segala laku dan ingatan
dan elan vitale
kamu tinggal begitu saja
teronggok di sisi busuk rasa gamangku
tentang rasa dan hamparan penasaran
menggulungku setiap diam
menghidupkan teleportku
tercampak aku tiba tiba
pada pamungkas srinindita dan karangwuni
lalu menghempas ku ke gemawang
obrolan dan dangling conversation
dari ulung sampai ke cikal arosbaya
lalu hilang

lalu ya itu pung...
aku terpental ke bawah jembatan klangon,
lalu...
ya luweng jaran ya hari bumi
sesak napas di kali brantas, cengklik dan samas
ya winnetou ya machiavelli ya mc cleland
ya itu pung...
ya 24 deadwood alias dan roswell
the omnibus of synchronicity

ya itu pung
akhirnya kamu pulang juga
dan aku tak lagi tanya
apa yang kamu rasa sekarang
karena rasamu mestinya sudah first ascent
kumpul dengan bun, han, dan pak martin (ingat
teman perjalanan, panglima suku damal,
10 bekas anak panah di dada dan betisnya....?)

ya itu pung
beribu bekas anak panah
membungkus seluruh tubuhku
dan setiap lubang
bercerita tentang kamu

ya itu pung
aku akan matikan api unggun
telah dini hari ini
tidurlah
aku masih sibuk dengan anganku.

(tiebet 1 agustus 2005, ketika pupung tak lagi ada)

Friday, July 22, 2005

the down of a mountaineer

antara bujila sampai ilaga
perjalanan pagi hari lewati larson dan danau danau
para meno kaki belah uang merah dan takis perus?
apa yang kamu rasa sekarang?
punggung timur carstenz ngga pulu dan lembah kuning...ingat?
dinginkah kah kamu? sedingin sekian malam siege tactics kita?
sesesak sambungan chocks dan cowstail dan ransel kita?
heh, allahu-akbar setiap puncak...ingat?
apa yang kamu rasa sekarang?

(tiebet 22 juli 2005, teringat pupung tergeletak di aisiyu)

Monday, July 18, 2005

menari/zen

para ibu,
jarit baru
kebaya norak
mainkan lendang
menari zen

air mata basahi pupur
jadi kelabu membentuk garis
berkelok di cekung mata
turun ke pipi
ke ujung bibir
tertarik di ujungnya
merana

para ibu
mengais pandang
penonton kosong
cuma ketela
pohon tercabut
telah diambil
semua umbinya

para ibu
tetap menari
lambaikan lendang
bentuk lingkaran
arah penonton
(cuma ketela, pohon tercabut
telah diambil semua umbinya)
gerak membungkuk
hormat takzim
dendangkan salam
begini bunyinya:

(aiya iya iyo
sirkus kampung
trubador jalan
selamat datang!
satu guru satu ilmu
tentu saja
jangan menganggu!
aiyo iyo iya
tuan puan handai tolan
tanah perdikan
mohon ijinkan
kami panggungkan
seni budaya kehidupan
tentang seri dan dukana
tentang kutuk dan serapah
tentang padi dan kumbang
dan pohon jamblang
dan getah dupa
dan zen)

lalu kaku tubuh mereka
gemuruh angin
sorakan maya
letupan dendam
tiba tiba tak berdaya
kerna para ibu sedang menari
menari zen

dan tak ada yang tak tahu
rasa nikmatnya
menari zen dengan sukma
tak ditonton tak apa apa
tak digubris sudah biasa
tak makan
entahlah
entah bisa
entah jalan pulang
tinggal surga

(tigaribu terbit tenggelam matahari,
para ibu masih menarikan zennya
tak juga
penonton
silih ganti
… tak ada!)

- kubikelku, 27 Mei, 12.38 WIB -

dan
para ibu terus menari
menembus malam menjelang pagi
lambaian lendang lembut melayang
menampar rindu, mengguyang kasih
merobek duka merunut nasib lalu meradang
bah!
melahap kupu terbang menelan sarang belalang
menggerit pokok kayu
meremuk tebing menggerus batu
menghisap kali menggulung tepian
menokok gunung mengerat langit
menggundu bintang
membelah sukma dan
jagad tunggang langgang
berlari tanpa arah rasa tak jenak
terus bertanya: kenapa ya? kenapa ya?

dan para ibu tetap menari
menarikan zen
mereka
sambil bersenandung
ditingkahi elahan napas dengusan lelah
sayup rintih menggendam gendang telinga

(semata wayang mengejar bayang
duh gusti pintaku pinta
sepanjang galah pintalan duka
jangan di-jenu dengan laku
muka murka membakar marah
apa yang tertinggal?
durjanakah? durjana?)

(duh biyung duh biyung
jenang putih glali abang
padhang ra dadi dolanan
kesengkang perih raga lan rasa
lakon lanang lakuning pamrih
laku tembih lakon tembih laku?)

dan
para ibu terus menari
tak rasa dapur tak asap lagi
cucian kering asahan kosong
rasanan unggas berdecak di bilik sepi
menghujat para lelaki pandangi ibu lagi menari
terus
menari
menarikan
zen

(kubikelku, 10 juni 2002, 16.41 wib)

bungarampai

1
jika ada banyak jika
telaga tak akan pernah tenang
kerna nafsu akan membuat
gelombangmu tak pernah henti
kerna hidup takkan lagi sekedar biru
tapi juga takkan ungu
kerna aku tak mau luka
kerna luka
tak pernah pisah
dengan duka
dan denganmu
duka
takkan pergi
dari sarangnya

2
rasa penasaran ini tak kan terpenuhi
kuserahkan pada sang kala
memberi jawaban yang tak juga pasti
ku sembunyi
dibalik pepohonan jiwa meranggas
kusadari laku ini takjuga banyak berarti
apa lagi apa lagi?

3
adalah percobaan
mencoba mengerti
akan seperti apa
kita nanti...

maybe

1 - yes

yes, maybe i lie to you
that the sound is not so thunder
along the glimmering wave of whisper
between the roar of a just lame tiger
believe me,
maybe i lie to you

thus, let it be like this
follow the reddest sun
our very own sun
and then
let it be like this
saint of sorrow will clasps it's ears
as such saying
no, hear nothing folks ...
no hearsay at all

2 - that

its a matter of fact that
from time to time is an anniversary
that water will never pass the same runaway again
that shadow is the most vicious inside of you
that regardless means disputing all reality that sneak into you dream
that all mention above
is nothing
and
nothing
at all !!

(limakosongsatu juli 2002)

lewat caraka

lewat caraka…
lewat nasib
ada rosebud kuning melayu
untuk gwein dari lot
untuk yang terkasih guinevere, putri camelot, belahan jiwa lancelot muda
terombang ambing antara benar dan khianat atas cinta
rasa yang tak pernah bisa bebas
bahkan setiap ayunan lengan menghentak pedang memutus nyawa,
terpental begitu saja, bagai tertahan zirah yang tak tembus apapun bahkan cahaya
dan begitulah
ketika tlah jauh lot berkuda
sedang menuai panas unggun
mengenang senja di camelot
bau masakan dan asap dapur
seronok pagi memenggal malam ditingkahi bau tanah dan embun basah
ketika terbayang entah dimana dan sampai kapan
melewati waktu jaga

[dan begitulah,
sang kekasih meremas kuntum kenangan,
menggulirkan air mata dari ujung mata hati
terdengar lamat gumam dukanya
'aku gwenie the queenie, jiwa mati martir cinta tanah camelot, pemersatu britania,
slamat datang pucat pasi hidup kekalku . . .]

limakosongsatu, 11 maret 2001

and yes it was

and yes it was
i stood out there stone cold
and rain poured all over me
while the untold stories
wrapped in painted memories
clinged into my wet wondering
haunting the darkest space and time
of the where were you
the serenade of you
running along the unspoken karma
and yes
it was !
(kuningan 14/2/01, along the early morning way, on rehearsing her love affair)
 
 free web counter Counter Powered by  RedCounter